Saturday, April 1, 2017

Japanese encephalitis ... 2

Data dari WHO (World Health Organization) dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari banyak negara Asia yang menjadi daerah endemis virus japanese encephalitis. Setiap calon wisatawan yang hendak berkunjung ke Indonesia mendapatkan informasi mengenai penyakit ini dan dapat melakukan pencegahan awal untuk menghindarinya. Tetapi sayangnya, informasi mengenai japanese encephalitis di dalam negeri kita sendiri sangat terbatas. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang bahaya penyakit ini.

Apa itu japanese encephalitis?

Japanese encephalitis adalah penyakit radang otak akibat virus, yang paling banyak terjadi di kawasan Asia. Virus japanese encephalitis adalah virus golongan flavivirus. Penularan virus tersebut sebenarnya hanya terjadi antara nyamuk Culex (terutama Culex tritaeniorhynchus), babi, dan atau burung sawah/ladang.

Bagaimana virus japanese encephaltis menulari manusia?

Manusia bisa tertular virus japanese encephalitis bila tergigit oleh nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Biasanya nyamuk ini lebih aktif pada malam hari. Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi. Di Bali, tingginya kejadian japanese encephalitis dikaitkan dengan banyaknya persawahan dan peternakan babi di area tersebut. Kejadian penyakit japanese encephalitis pada manusia biasanya meningkat pada musim penghujan.

Apa saja gejala japanese encephalitis?

Sebagian besar penderita japanese encephaltiis hanya menunjukkan gejala yang ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Gejala dapat muncul 5-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus. Gejala awal yang muncul dapat  berupa demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah. Kurang lebih 1 dari 200 penderita infeksi japanese encephalitis menunjukkan gejala yang berat yang berkaitan dengan peradangan pada otak (encephalitis), berupa  demam tinggi mendadak, sakit kepala, kaku pada tengkuk, disorientasi, koma (penurunan kssadaran), kejang, dan kelumpuhan.

Gejala kejang sering terjadi terutama pada pasien anak-anak. Gejala sakit kepala dan kaku pada tengkuk terutama terjadi pada pasien dewasa. Keluhan-keluhan tersebut biasanya membaik setelah fase penyakit akut terlampaui, tetapi pada 20-30% pasien, gangguan saraf kognitif dan psikiatri dilaporkan menetap. Komplikasi terberat pada kasus japanese encephalitis adalah meninggal dunia (terjadi pada 20-30% kasus encephalitis).

Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan?

Diagnosis japanese encephalitis didapat dari gejala-gejala yang penderita alami, pemeriksaan fisik yang dokter lakukan, dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan yaitu pemeriksaan darah dan pemeriksaan cairan sumsum. Tindakan pengambilan cairan tulang sumsum adalah tindakan yang tidak sederhana, harus dilakukan di ruang perawatan, tidak bisa dilakukan di laboratorium klinik biasa.

Bila Anda terserang infeksi, sistem imun tubuh akan membentuk antibodi untuk melawan infeksi tersebut. Tes-tes laboratorium ini berfungsi mendeteksi adanya antibodi (IgM) yang melawan virus japanese encephalitis. IgM dapat dideteksi dalam cairan sumsum 4 hari setelah gejala muncul, dan dapat dtemukan dalam darah 7 hari setelah gejala muncul.

Apakah penyakit japanese encephalitis bisa diobati?

Saat ini tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit japanese encephalitis. Pengobatan yang  diberikan adalah berdasarkan gejala yang diderita pasien (simtomatik), seperti istirahat, pemenuhan kebutuhan cairan harian, pemberian obat pengurang demam, dan pemberian obat pengurang nyeri. Pasien perlu dirawat inap supaya dapat diobservasi dengan ketat, sehingga penanganan yang tepat bisa segera diberikan bila timbul gejala gangguan saraf atau komplikasi lainnya.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah japanese encephalitis?

Beberapa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan antara lain :

Mencegah gigitan nyamuk
Menggunakan anti nyamuk berupa lotion atau spray yang aman bagi kulit
Menggunakan pakaian yang menutupi tubuh bila beraktivitas di luar rumah
Menggunakan kelambu saat tidur/ air conditioner
Sebisa mungkin menghindari kegiatan di malam hari di area pertanian, ladang, atau persawahan di mana banyak terdapat nyamuk Culex.
Vaksinasi
Pencegahan utama yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan vaksin japanese encephalitis. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia 2 bulan hingga dewasa. Vaksin ini perlu diberikan 2 kali, dengan jarak antar pemberian vaksin 28 hari. Vaksin booster bisa diberikan pada orang dewasa (>17th) minimal setahun setelah 2 dosis vaksin tersebut.

Friday, March 31, 2017

Japanese encephalitis

Akhir2 ini beredar berita tentang virus Japanese encephalitis, atau "radang otak Jepang". Bnyk pertanyaan tentang ini. Ada yg merasa serem dengan penyakit baru ini.

Penyakit ini sdh lama dideteksi ada di Indonesia. Tapi selama ini hanya disebut virus. Begitu saja... Tiap hari juga ada anak yg dirawat di RSCM dengan radang otak, sebgn krn virus.

Sebgn dari penderita radang otak virus ini, mgkn 10%, adalah krn Japanese encephalitis. Tapi secara klinis dokter tidak perlu membedakannya krn semua penanganannya sama aja. Tidak ada obat khusus utk virus.

Virus ini ditularkan nyamuk ke babi dan burung atau ayam. Dr babi/burung/ayam ditularkan ke manusia, lewat nyamuk. Hampir 50% babi di Bali terinfeksi ini. Tapi sehat aja. Manusia juga. Dr 100 orang yg kena infeksi, cuma 1 yg menunjukkan gejala radang otak.

Jadi, bukan hal baru. Ndak usah serem.

Saturday, March 25, 2017

Banyak minum atau kurangi minum?

Apa betul orang yg sdh tua tidak boleh minum air terlalu banyak?

Bebrp tahun lalu beredar berita bhw utk sehat, orang hrs bnyk minum. Dua atau tiga liter per hari. Bulan2 terakhir ini beredar berita sebaliknya, orang tua dilarang minum air terlalu bnyk. Jadi mana yg bener?

Jawabnya, minum lah air sesuai kebutuhan dan kondisi badan. Bila perlu air, minum secukupnya.

Kalau ada sakit gagal jantung, dilarang minum terlalu bnyk. Bisa mati. Ada orang yg percaya pd berita internet dulu itu, dan minum bnyk2. Dia mati... Jadi sharing internet itu bisa bikin mati.

Kalau ada gagal ginjal, air juga dibatasi. Dokter akan memberi pesan pd Anda.

Kalau tidak ada kedua hal di atas itu, minum lebih bnyk dr biasanya mgkn bagus utk kesehatan.

Wednesday, March 1, 2017

Cara Menghilangkan Formalin pada Makanan

Cara Menghilangkan Formalin pada Mie, Tahu dan Ikan
Tulisan ini berasal dr broadcast WA. Sumber tidak diketahui.

Formalin adalah bahan kimia berbahaya yang kerap dicampurkan ke makanan oleh pedagang curang. Sebagai konsumen kita pun jadi waswas, takut bila tanpa sengaja membeli makanan berformalin dan meracuni diri dan keluarga sendiri. Untungnya, ada cara untuk menghilangkan kadar formalin dari makanan.

*1. Ikan Asin*

Ikan asin yang berformalin perlu direndam selama 60 menit agar formalinnya terlepas dari ikan dan terlarut ke air rendamannya. Level formalin akan berkurang sebanyak 61.25% bila ikan asin direndam dalam air biasa. Sebaiknya, perendaman ikan asin dilakukan di air garam karena dapat menghilangkan level formalin hingga 89.5%.

*2. Tahu*

Tahu yang berformalin pun bisa dinetralkan dengan cara yang mudah. Cara terbaik adalah dengan merebusnya sampai mendidih kemudian menggorengnya. Teknik ini terbukti dapat menghilangkan hampir semua kandungan formalin di dalam tahu tersebut. Cara lain juga bisa dilakukan dengan mengukusnya atau merendamnya di air panas. Namun, kedua cara ini hanya dapat mengurangi kandungan formalinnya, bukan menghilangkannya secara total.

*3. Mie Basah*

Untuk mie basah, caranya lebih mudah lagi. Cukup rendam saja mie dalam air panas selama 30 menit. Teknik sederhana ini terbukti dapat menghilangkan kandungan formalinnya hingga 100%. Jangan lupa, cuci kembali mie dengan air biasa setelah perendaman untuk memastikan tidak ada sisa formalin yang masih menempel.

*4. Ikan Segar*

Ikan segar yang diberi formalin juga bisa dinetralkan kembali sehingga aman untuk dikonsumsi. Campurkan cuka ke dalam air hingga konsentrasinya mencapai 5%. Kemudian, rendam ikan di larutan tersebut selama 15 menit. **************************

Diskusi

Literatur ilmiah ttg makanan ber-formalin sangat sedikit krn peristiwa ini hanya ada di negara berkembang. Tapi pesan2 di atas masuk akal.

Yg penting, rendam dlm air. Apakah garam atau cuka mempercepat pengeluaran formalin, saya tidak berhasil memperoleh data ilmiahnya. Tapi dlm teori, larutan garam yg cukup pekat akan menarik air dr dalam bahan makanan lewat proses osmosis. Bersama air, akan ikut juga formalin-nya.

Kebetulan ikan biasanya mmg direndam dlm cairan asam dan garam, jadi cocok... Setelah itu, cuci sebntr dengan air leding.

Kimia:
Formalin adalah larutan formaldehida (gas) dlm air, dicampur sedikit metanol (racun kuat). Krn formaldehida adalah gas, metanol juga mudah menguap, pemanasan akan mengusir keluar kedua racun itu. Bayangkan minuman Coca cola, yg mengandung gas CO2, yg dihangatkan. Dengan segera gas akan hilang.

Jadi, kalau tahu atau ikan betul2 mengandung formalin, lalu direndam air 30 menit, dibersihkan, lalu di masak selama 15- 30 menit, saya kira sebgn besar (atau mgkn semua) racun sdh akan hilang.

Lalu, krn semua makanan itu dimasak matang atau digoreng, mgkn juga sebnrnya formalin sehrsnya tdk ada efek terhadap kesehatan.? Entahlah. Tidak ada studi ilmiah ttg ini. Tapi teorinya semua formaldehida/formalin mestinya sdh terbang jadi gas. Tapi ilmu kedokteran modern tidak bisa hanya memakai teori. Hrs ada bukti. Dan itu yg blm ada, sampai skg...

Jadi semua yg dibicarakan dlm majalah atau media lain itu, oleh org awam ataupun yg mengaku ahli, sebgn besar adalah teori saja. Tidak ada bukti ilmiah sedikit pun...